Darah yang didonorkan akan disimpan dan dikelola oleh unit pelayanan darah sebelum disalurkan kepada pasien yang membutuhkan. Setiap kantong darah dapat membantu lebih dari satu orang karena darah dapat dipisahkan menjadi beberapa komponen, seperti sel darah merah, plasma, dan trombosit. Oleh karena itu, satu kali donor darah dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi banyak orang.
Mengapa Donor Darah Penting?
Kebutuhan darah terus meningkat setiap hari seiring dengan bertambahnya jumlah pasien yang memerlukan transfusi darah. Namun, stok darah sering kali mengalami kekurangan, terutama pada golongan darah tertentu. Dalam situasi darurat, ketersediaan darah yang memadai dapat menjadi penentu antara hidup dan mati bagi pasien.
Donor darah tidak hanya menjadi bentuk bantuan bagi sesama, tetapi juga mencerminkan semangat gotong royong dan solidaritas sosial. Dengan menjadi pendonor darah secara rutin, masyarakat turut berkontribusi dalam menjaga ketersediaan darah bagi pelayanan kesehatan di berbagai fasilitas kesehatan dan rumah sakit.
Manfaat Donor Darah bagi Kesehatan
Selain membantu menyelamatkan nyawa orang lain, donor darah juga memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan pendonor. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa donor darah secara teratur dapat membantu menjaga kesehatan sistem peredaran darah dan menjaga keseimbangan kadar zat besi dalam tubuh. Kadar zat besi yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, sehingga donor darah dapat menjadi salah satu cara untuk membantu menjaga keseimbangan tersebut.
Setelah mendonorkan darah, tubuh akan merangsang pembentukan sel darah baru untuk menggantikan darah yang telah disumbangkan. Proses ini membantu regenerasi sel darah sehingga tubuh tetap dapat berfungsi secara optimal. Selain itu, banyak pendonor merasakan kepuasan batin dan kebahagiaan karena dapat membantu orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan.
Manfaat lain yang sering dikaitkan dengan donor darah antara lain:
Membantu menjaga kesehatan jantung dan melancarkan sirkulasi darah.
Membantu menjaga kadar zat besi dalam tubuh tetap seimbang.
Merangsang pembentukan sel darah merah yang baru.
Membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida.
Menjadi sarana pemeriksaan kesehatan sederhana karena sebelum donor dilakukan pemeriksaan tekanan darah, hemoglobin, dan kondisi kesehatan umum.
Membakar kalori dan membantu menjaga kebugaran tubuh.
Memberikan manfaat psikologis berupa rasa bahagia dan kepuasan karena dapat membantu sesama.
Donor darah di Indonesia diatur oleh Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 Tahun 2011 tentang Pelayanan Darah. Syarat donor darah penting diperhatikan guna menjaga kesehatan pendonor maupun calon penerima donor darah. Ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh pendonor, sehingga tidak semua orang bisa mendonorkan darahnya, agar proses donor darah dapat berjalan lancar dan aman, baik bagi pendonor maupun penerima darah.
Syarat Menjadi Pendonor Darah
Agar donor darah aman bagi pendonor maupun penerima, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu:
Berusia 17-60 tahun untuk orang yang baru pertama kali mendonorkan darah.
Pendonor pertama kali yang berusia lebih dari 60 tahun dan pendonor ulang yang berusia lebih dari 65 tahun dapat mendonorkan darah, tetapi mendapatkan perhatian khusus berdasarkan kondisi kesehatannya.
Memiliki berat badan minimal 45 kg.
Memiliki tekanan darah normal atau berkisar antara 90/60-150/80 mmHg.
Memiliki kadar hemoglobin sekitar 12,5-17 g/dL dan tidak lebih dari 20 g/dL.
Jarak waktu donor darah terakhir minimal 3 bulan atau 12 minggu, jika sebelumnya sudah pernah menjadi pendonor darah.
Tidak sedang dalam kondisi sakit atau memiliki keluhan tertentu, seperti lemas, batuk, atau demam.
Tidak sedang hamil atau menyusui.
Bersedia menyumbangkan darah secara sukarela dengan menyetujui informed consent.
Pendonor darah juga harus memiliki kondisi kesehatan yang baik dan tidak memiliki penyakit tertentu yang dapat menular melalui darah. Selain itu, ada beberapa syarat donor darah lain yang tidak boleh dimiliki oleh seorang pendonor darah, antara lain:
Menderita penyakit tertentu, seperti diabetes, kanker, penyakit jantung, masalah paru-paru, atau gangguan fungsi ginjal.
Memiliki tekanan darah tinggi atau rendah.
Menderita epilepsi atau sering kejang.
Menderita penyakit menular atau berisiko tinggi terkena penyakit menular, seperti sifilis, HIV/AIDS, hepatitis B, hepatitis C, atau malaria.
Mengonsumsi obat-obatan atau sedang menjalani pengobatan tertentu.
Memiliki gangguan perdarahan, seperti hemofilia.
Memiliki riwayat penggunaan narkoba dalam bentuk suntik.
Memiliki kecanduan terhadap minuman keras.
Hal yang Perlu Diperhatikan sebelum Donor Darah
Tidur yang cukup pada malam sebelumnya.
Mengonsumsi makanan bergizi, terutama yang mengandung zat besi.
Memperbanyak minum air putih.
Menghindari konsumsi alkohol dan aktivitas fisik berat sebelum donor.
Apa Efek Samping Donor Darah yang Perlu Diketahui?
Penting untuk diketahui bahwa sebagian besar efek samping ini umumnya ringan, bersifat sementara, dan mudah diatasi.
Memahami apa saja efek samping ini dapat membantu pendonor mempersiapkan diri dan meredakan kecemasan.
Pusing, Kepala Ringan, atau Mual : Setelah mendonorkan darah, volume darah dalam tubuh sedikit menurun. Penurunan ini dapat menyebabkan tekanan darah sementara turun, memicu sensasi pusing, kepala terasa ringan, atau bahkan sedikit mual. Kondisi ini biasanya akan membaik setelah pendonor beristirahat, mengonsumsi makanan ringan, dan minum cairan yang cukup.
Lemas atau Kelelahan : Rasa lelah atau lemas dapat muncul beberapa jam hingga satu atau dua hari setelah donor darah. Tubuh bekerja untuk mengganti volume darah yang hilang, yang membutuhkan energi. Istirahat yang cukup sangat dianjurkan untuk membantu proses pemulihan ini.
Memar atau Nyeri di Bekas Suntikan : Area kulit di sekitar bekas jarum suntikan mungkin akan sedikit memar, bengkak ringan, atau terasa sakit selama 1 hingga 2 hari. Ini adalah reaksi normal akibat proses penusukan jarum dan biasanya tidak memerlukan penanganan khusus. Mengompres dingin area tersebut dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan.
Reaksi Alergi Ringan di Area Suntikan : Beberapa orang mungkin mengalami iritasi ringan atau reaksi alergi terhadap antiseptik yang digunakan untuk membersihkan kulit atau terhadap lem pada perban. Reaksi ini sangat jarang terjadi dan biasanya hanya berupa kemerahan atau gatal di area suntikan.
Perdarahan Ringan dari Bekas Suntikan : Kadang-kadang, sedikit perdarahan dapat terjadi setelah perban atau plester dilepas dari area suntikan. Ini biasanya berhenti dengan memberikan tekanan lembut pada area tersebut dan mengangkat lengan ke atas selama beberapa menit. Pastikan perban tetap terpasang setidaknya selama beberapa jam setelah donor.
Cara Mencegah dan Mengurangi Efek Samping Donor Darah
Persiapan yang baik dan perawatan setelah donor dapat secara signifikan mengurangi risiko efek samping.
Persiapan Sebelum Donor Darah
Cukup istirahat: Pastikan tidur minimal 7-8 jam pada malam sebelum donor.
Makan cukup: Konsumsi makanan sehat dan bergizi sebelum donor, hindari datang dengan perut kosong.
Hidrasi optimal: Minum banyak cairan (air putih, jus) 24 jam sebelum donor, setidaknya 500 ml air sebelum berangkat ke pusat donor. Hindari minuman berkafein atau beralkohol.
Informasi kesehatan jujur: Beri tahu petugas medis tentang riwayat kesehatan, obat-obatan yang diminum, dan perjalanan terakhir.
Selama Proses Donor Darah
Tetap rileks: Cobalah untuk tetap tenang. Kecemasan dapat memicu reaksi vasovagal. Beri tahu petugas jika merasa tidak nyaman.
Lakukan teknik relaksasi: Bernapas dalam-dalam atau mengalihkan perhatian dapat membantu.
Perawatan Setelah Donor Darah
Istirahat cukup: Duduk atau berbaringlah setidaknya 10-15 menit setelah donor. Hindari aktivitas fisik berat selama 24 jam pertama.
Minum banyak cairan: Lanjutkan minum air putih atau minuman non-alkohol lainnya untuk membantu mengembalikan volume cairan tubuh.
Konsumsi makanan bergizi: Perbanyak asupan makanan kaya zat besi seperti daging merah, bayam, kacang-kacangan, dan sereal yang difortifikasi.
Jaga area suntikan: Biarkan plester atau perban terpasang selama beberapa jam. Hindari mengangkat beban berat dengan lengan yang digunakan untuk donor.
Hindari alkohol dan merokok: Batasi konsumsi alkohol dan hindari merokok setidaknya beberapa jam setelah donor.
Jangan terburu-buru: Hindari berdiri terlalu cepat dari posisi duduk atau berbaring untuk mencegah pusing.
Virus Human Metapneumovirus (HMPV), yang baru-baru ini merebak di China, dilaporkan telah ditemukan di Indonesia.
Semua kasus yang ditemukan melibatkan anak-anak. Menanggapi hal ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat untuk tidak panik, karena HMPV bukanlah virus baru dan sudah dikenal dalam dunia medis.
“HMPV sudah lama ditemukan di Indonesia, kalau dicek apakah ada, itu ada. Saya sendiri kemarin melihat data di beberapa lab, ternyata beberapa anak ada yang terkena HMPV,” kata Menkes di Jakarta, Senin (6/1).
Menkes menjelaskan, virus HMPV berbeda dengan virus COVID-19. Menurutnya, COVID-19 merupakan virus baru, sedangkan HMPV adalah virus lama yang sifatnya mirip dengan flu. Sistem imunitas manusia sudah mengenal virus ini sejak lama dan mampu meresponsnya dengan baik.
“Berbeda dengan COVID-19 yang baru muncul beberapa tahun lalu, HMPV adalah virus lama yang sudah ada sejak 2001 dan telah beredar ke seluruh dunia sejak 2001. Selama ini juga tidak terjadi apa-apa juga,” ujar Menkes.
Mengenai pemberitaan tentang meningkatnya kasus HMPV di Tiongkok, Menkes menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar. Hal ini juga telah dikonfirmasi oleh pemerintah Tiongkok dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Menurutnya, peningkatan kasus flu biasa di negara empat musim seperti Tiongkok sering terjadi saat musim dingin.
“Saya sudah lihat datanya, yang naik di China itu virusnya bukan HMPV tapi melainkan tipe H1N1 atau virus flu biasa. HMPV itu ranking nomor tiga di China dari sisi prevalensi, jadi itu tidak benar),” kata Menkes.
Menkes Budi juga menegaskan bahwa HMPV bukanlah virus yang mematikan. Virus ini memiliki karakteristik mirip dengan flu biasa, dengan gejala seperti batuk, demam, pilek, dan sesak napas. Sebagian besar orang yang terinfeksi akan pulih dengan sendirinya tanpa memerlukan perawatan khusus.
Penularan virus HMPV serupa dengan virus flu lainnya, yaitu melalui percikan air liur atau droplet dari individu yang terinfeksi. Meskipun umumnya tidak berbahaya, kelompok rentan seperti anak-anak, orang lanjut usia, dan individu dengan kondisi kesehatan tertentu tetap perlu waspada.
Karena itu, Menkes mengimbau masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat, seperti cukup istirahat, mencuci tangan secara rutin, memakai masker saat merasa tidak enak badan, dan segera berkonsultasi dengan tenaga medis jika muncul gejala yang mencurigakan.
“Yang terpenting adalah tetap tenang dan waspada. Dengan mengikuti protokol kesehatan 3M, menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker, sama Seperti COVID-19, kita dapat mengatasi virus ini dengan baik,” tutup Menkes
Rabu, 8 Januari 2025