7 Hal untuk Jaga Kesehatan Mata bagi Para Pemakai Softlens
Sebagian orang memilih untuk mengganti kacamata mereka dengan lensa kontak atau softlens demi alasan kepraktisan atau pun gaya. Nah, meskipun softlens merupakan alternatif yang baik untuk menggantikan kacamata, ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh penggunanya agar mata (dan penglihatan) tetap sehat. Seorang ahli optometri di The Eye Center di Pembroke Pines, Florida, Dr Gabriela Olivares memberikan penjelasan seputar perawatan softlens. Selain itu, dia pun membagikan beberapa hal yang perlu dilakukan agar kesehatan mata tetap terjaga.
1. Sering-seringlah mencuci tangan
Selain untuk menghindari infeksi Covid-19 yang sedang menjangkiti dunia, mencuci tangan juga merupakan rutinitas yang sangat penting, terutama sesaat sebelum memegang softlens. "Ini akan membantu menjaga softlens bebas dari partikel yang tidak diinginkan seperti minyak kulit, debu, dan bakteri berbahaya," kata Dr Olivares. "Disarankan agar kita mencuci tangan dengan hati-hati dan menyeluruh dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik." "Setelah itu keringkan tangan dengan handuk kertas yang tidak digunakan setiap kali kita memasukkan dan melepas softlens," jelas dia.
2. Gunakan larutan segar setiap hari
Menurut Dr Olivares, kita tidak boleh menggunakan kembali larutan softlens yang sudah digunakan. Jadi, gunakanlah larutan segar setiap malam. "Dan meskipun mungkin tergoda untuk mencuci mata dengan larutan itu, ketahuilah bahwa penggunaan utamanya hanya untuk membersihkan softlens dan tidak boleh digunakan pada mata," terangnya. "Di samping itu, buang softlens sekali pakai setiap malam atau secara teratur mendisinfeksi softlens setiap bulan sesuai dengan instruksi dari dokter mata," saran dia.
3. Istirahatkan mata di malam hari
Kecuali jika kita memakai softlens yang dirancang khusus untuk dipakai semalaman, Dr Olivares mengatakan kita harus mengeluarkan softlens dan merendamnya di malam hari. Langkah ini dilakukan agar softlens benar-benar dibersihkan dan didesinfeksi. Baca juga: Akui Dulu Tomboi, Amanda Manopo: Dulu Dipasangi Softlens, Lepasnya Enggak Bisa "Rutinitas pagi untuk penggunanya harus mencakup larutan bilas sebelum memasangnya kembali," ungkap dia.
4. Tidak menyentuh softlens dengan kuku
Dokter Olivares juga menegaskan agar kita hanya menyentuh softlens dengan ujung jari. Sebab, kuku kita dapat dengan mudah mengoyak bahan lensa yang halus. Dan bila kuku kotor, itu juga bisa menodai softlens dengan bakteri.
5. Hindari asap dan produk kecantikan
Paling tidak, kita harus memilih untuk menggunakan kacamata jika berada di sekitar asap berbahaya atau beracun. "Misalnya, kenakan kacamata saat mewarnai rambut atau membersihkan oven," kata Dr Olivares. Baca juga: Bahaya Pakai Softlens Saat Tidur, Infeksi Mata hingga Kebutaan "Selain itu, jauhkan kontak dari sabun, losion, kosmetik, parfum, dan produk sejenis lainnya," sambung dia.
6. Memeriksa obat-obatan
Biasanya, obat-obatan tidak akan mengganggu kemampuan kita untuk memakai softlens. Namun, beberapa obat-obatan tertentu dapat menyebabkan beberapa gejala yang kurang menyenangkan saat kita memakai softlens. "Obat-obatan itu, misalnya, kontrasepsi, antihistamin, dan beberapa obat hipertensi yang dapat menyebabkan mata kering, iritasi mata, penglihatan kabur, hingga intoleransi terhadap softlens," kata Dr Olivares. "Untuk pasien ini, pelumasan mata dan pilihan softlens sekali pakai setiap hari adalah yang terbaik," tutur dia. Baca juga: Mengenal Ulkus Kornea, Infeksi Mata yang Disebabkan Bakteri pada Softlens
7. Berkonsultasi dengan dokter
Penting untuk diketahui, kita harus berkonsultasi dengan dokter mata setiap tahun untuk pemeriksaan mata guna memahami mata dan kesehatan secara keseluruhan. "Namun, jika kita merasakan ketidaknyamanan mata atau memiliki penglihatan kabur maupun masalah lain setelah memakai softlens, lepaskan dan kunjungi dokter mata yang dapat mendiagnosis masalah ini dengan baik," imbuh Dr Olivares.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "7 Hal untuk Jaga Kesehatan Mata bagi Para Pemakai Softlens "
Jumat, 1 Juli 2022
Kondisi kesehatan mental seseorang bisa dipengaruhi oleh banyak faktor. Diungkapkan oleh Dr. Sarah Gupta, psikiater dan penulis medis di GoodRx yang berbasis di San Francisco. Setidaknya ada lima penyebab yang membuat kita mengalami sejumlah gangguan mental. Di antaranya mencakup kualitas pertemanan hingga postur tubuh saat kita melakukan aktivitas. Berikut ulasan selengkapnya.
1. Kualitas pertemanan
Pertemanan yang supportif tentu dapat berdampak positif pada kesehatan mental. "Ini bukan tentang kebanggaan punya banyak teman atau memiliki komunitas yang sering berinteraksi," katanya. Satu hal yang perlu dicatat dalam dunia pertemanan bukan soal kuantitasnya, tapi kualitas pertemanan itu sendiri. Dr. Gupta mengungkapkan bahwa rahasia yang membuat kita lebih bahagia dalam menjalani hidup adalah dikelilingi oleh orang-orang yang membuat kita menjadi diri sendiri. Coba amati seberapa banyak teman yang kita miliki atau menghabiskan waktu bersama. Jika itu tidak bisa membuat kita merasa puas dan berdaya ketika bersama mereka, tak ada salahnya jika kita membuka koneksi pertemanan baru yang sesuai minat kita. Atau mengikuti kelas tertentu yang kita sukai, bergabung dengan grup atau komunitas sesuai minat hingga menjadi sukarelawan dapat membantu menjaga kesehatan mental kita.
2. Jarang tertawa
Menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton acara favorit atau melakukan aktivitas yang bisa membuat kita tertawa, itu dapat membantu memperbaiki suasana hati. "Tersenyum dan tertawa dapat mengirimkan pesan ke otak dan mengatakan semuanya baik-baik saja," kata Dr. Gupta. Ada sebuah penelitian yang mengungkapkan bahwa tertawa bisa membuat kita berada dalam keadaan rileks dan mencegah kecemasan, depresi hingga stres. Dokter Gupta menyarankan ketika kita memiliki masalah tertentu, usahakan untuk tertawa sekali dalam sehari. Misalnya berkumpul dengan teman-teman yang lucu, atau telusuri internet untuk melihat meme yang bikin kita senang. Setidaknya cara ini dapat meringankan beban pikiran akibat masalah atau tekanan yang kita hadapi.
Hingga kini pandemi virus Corona belum juga berakhir. Guna menekan kasus yang terus bertambah, pemberian vaksin COVID-19 mulai dilakukan. Pemerintah pun menganjurkan agar semua orang mendapatkannya. Lantas, apa alasan setiap orang harus menjalani vaksinasi COVID-19?
Saat ini, vaksin COVID-19 tengah didistribusikan ke seluruh masyarakat Indonesia. Pemberian vaksin ini merupakan solusi yang dianggap paling tepat untuk mengurangi jumlah kasus infeksi virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit COVID-19.
Alasan Mengapa Vaksinasi COVID-19 Sangat Penting
Sejak vaksin COVID-19 tiba di Indonesia, tidak sedikit masyarakat yang belum setuju akan anjuran pemerintah untuk menjalani vaksinasi COVID-19. Padahal, pemberian vaksin ini sangatlah penting, bukan hanya untuk melindungi masyarakat dari COVID-19, tetapi juga memulihkan kondisi sosial dan ekonomi negara yang terkena dampak pandemi.
Vaksinasi atau imunisasi bertujuan untuk membuat sistem kekebalan tubuh seseorang mampu mengenali dan dengan cepat melawan bakteri atau virus penyebab infeksi. Tujuan yang ingin dicapai dengan pemberian vaksin COVID-19 adalah menurunnya angka kesakitan dan angka kematian akibat virus ini.
Meskipun tidak 100% bisa melindungi seseorang dari infeksi virus Corona, vaksin ini dapat memperkecil kemungkinan terjadinya gejala yang berat dan komplikasi akibat COVID-19.
Selain itu, vaksinasi COVID-19 bertujuan untuk mendorong terbentuknya herd immunity atau kekebalan kelompok. Hal ini penting karena ada sebagian orang yang tidak bisa divaksin karena alasan tertentu.
Orang yang tidak dianjurkan untuk menerima vaksin atau tidak menjadi prioritas untuk vaksin COVID-19 antara lain anak-anak atau remaja berusia di bawah 18 tahun dan orang yang menderita penyakit tertentu, misalnya diabetes atau hipertensi yang tidak terkontrol.
3. Perhatikan kebutuhan cairan tubuh
ilustrasi air putih. Sahur jangan hanya minum air putih Mencukupi kebutuhan cairan tubuh terbukti dapat berdampak pada kesehatan mental. "Ketika kita kekurangan cairan atau dehidrasi, tubuh akan memberikan alarm bahwa kita berada dalam situasi mengancam," kata Dr. Gupta. Secara langsung, kondisi itu memicu tubuh memproduksi hormon stres yang disebut kortisol. Oleh karena itu, mencukupi kebutuhan cairan tubuh dapat membantu kita merasa lebih baik.
4. Berlibur melihat pemandangan alam
Otak manusia dapat merespons dengan baik apa yang kita lihat dan rasakan kita menikmati pemandangan alam. Seperti air dan udara yang segar, sinar matahari, pepohonan, rerumputan hingga pemandangan laut. "Manusia berevolusi untuk memilih lingkungan di mana kita bisa mendapatkan sumber alam yang kita butuhkan untuk tetap hidup," papar dokter Gupta. Menghabiskan waktu untuk sekadar menikmati pemandangan alam juga dapat menjadi sumber kebahagiaan dan mengurangi stres atau depresi yang menjadi gejala dari gangguan mental. Jika tidak punya banyak waktu untuk liburan, kita dapat memanfaatkan aktivitas berkebun hingga meletakkan tanaman hias di dalam rumah juga dapat membantu.
5. Postur tubuh saat melakukan aktivitas
Penelitian menunjukkan bahwa postur tubuh dapat berpengaruh pada kesehatan mental. Misalnya saat bekerja baik di rumah atau di kantor dan posisi duduk kita cenderung membungkuk selama berjam-jam. "Banyak orang tidak menyadari bahwa postur tubuh mengirimkan informasi ke otak," imbuh dia. Menurut studi pada tahun 2017, ditemukan bahwa orang yang sering duduk membungkuk lebih sering mengalami suasana hati yang buruk daripada mereka yang duduk tegap. Beri tanda atau alarm setiap jam ketika kita melakukan aktivitas untuk sejenak meluruskan postur tubuh. Tarik napas dalam-dalam juga dapat meredakan stres ringan yang ada di otak
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kesehatan Mental Bisa Dipengaruhi Pertemanan hingga Postur Tubuh"
Kamis, 30 Juni 2022
Jadi, dengan mendapatkan vaksin COVID-19, Anda tidak hanya melindungi diri sendiri, tapi juga orang-orang di sekitar Anda yang belum memiliki kekebalan terhadap virus Corona.
Penting untuk Tetap Menjaga Daya Tahan Tubuh
Vaksin COVID-19 memang dapat membawa banyak manfaat dengan melindungi kita dari infeksi virus Corona. Namun, perlu diketahui bahwa vaksin ini tidak diberikan kepada orang yang sedang sakit berat atau sudah terinfeksi virus Corona.
Jadi, pastikan untuk selalu mempertahankan daya tahan tubuh Anda, baik sembari menunggu giliran untuk diberikan vaksin maupun setelahnya. Hal ini karena dengan imunitas tubuh yang kuat, Anda tidak akan mudah sakit sehingga kebugaran tubuh tetap terjaga.
Beberapa cara untuk meningkatkan daya tahan tubuh adalah mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, mengelola stres dengan baik, serta beristirahat yang cukup.
Selain cara-cara tersebut, Anda juga bisa mengonsumsi produk herbal yang dapat meningkatkan imunitas tubuh. Beberapa jenis herba yang kandungannya dipercaya mampu memperkuat daya tahan tubuh adalah:
Meniran hijau, karena mengandung zat imunomodulator untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh yang lemah
Daun kelor, karena mengandung antioksidan dan terbukti dapat meningkatkan daya tahan tubuh
Kunyit, karena mengandung banyak antioksidan untuk melindungi tubuh dari efek buruk radikal bebas dan memperkuat imun
Di samping menjaga daya tahan tubuh, Anda perlu tetap menerapkan protokol kesehatan, baik selama menunggu giliran untuk divaksin maupun setelah mendapatkan vaksin. Sebisa mungkin juga hindari bepergian ke luar rumah atau berkumpul dengan orang banyak.
Vaksin COVID-19 diharapkan bisa menjadi solusi untuk menyudahi pandemi yang telah memakan banyak korban jiwa serta melumpuhkan aktivitas masyarakat, dan partisipasi Anda dalam program vaksinasi ini akan sangat membantu pemulihan kondisi negara kita.
Mari sukseskan program vaksinasi COVID-19 yang diberikan gratis oleh pemerintah untuk seluruh rakyat Indonesia. Apabila Anda masih memiliki pertanyaan seputar vaksin COVID-19, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.
Rabu, 29 Juni 2022